Bisnis Hiburan dan Pariwisata Terancam

SUARA PEMBARUAN DAILY Bisnis Hiburan dan Pariwisata Terancam

Rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga minimal 30 persen dipastikan akan berdampak luas. Selain biaya transportasi, harga bahan pangan pokok juga ikut mengalami kenaikan. Beban hidup semakin berat. Kemiskinan dan pengangguran pun meningkat. Sejumlah industri dipastikan akan terpukul, termasuk industri hiburan dan pariwisata. enaikan harga BBM membuat biaya operasional bertambah. Di sisi lain, pendapatan masih tetap. Sektor pariwisata akan terpukul oleh biaya transportasi. Perhitungan angka kenaikan menjadi berlipat ganda karena kepastian naik BBM belum diumumkan presiden. Sementara itu, industri hiburan yang menjadi sektor pendukung pariwisata mengalami pukulan berat, bahkan mungkin terancam krisis. Gaung Visit Indonesia Year 2008 semakin melemah dengan buruknya industri pendukung sektor pariwisata. Pelayanan transportasi udara yang bobrok, bandara yang dikepung banjir, dan infrastruktur yang minim. Belum lagi kriris pangan global, cuaca yang tidak menentu, kriminalitas, serta ancaman terorisme. Kondisi itu sama sekali “tak bersahabat” bagi para turis. Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Fadhil Hasan menilai, industri pariwisata dan hiburan akan semakin terpuruk apabila pemerintah ngotot menaikkan harga BBM. Jumlah wisatawan mancanegara dan lokal otomatis menurun di tahun 2008, karena kenaikan harga BBM berpengaruh pada transportasi dan kebutuhan pokok. “Semuanya akan naik. Khusus di industri pariwisata dan hiburan akan terbeban dengan kenaikan transportasi dan harga makanan-makanan di tempat hiburan,” papar Fadhil. Diungkapkan Fadhil, keinginan masyarakat untuk berwisata akan berkurang. Masyarakat, mulai dari golongan bawah sampai atas otomatis lebih memilih memenuhi kebutuhan pokok daripada kebutuhan tersier (hiburan). Sementara itu, Sekjen Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Sutoto Soerjadi, mengatakan industri hiburan dan pariwisata sangat bergantung pada ketersediaan energi. Alhasil, bila pemerintah menaikkan harga BBM per Juni 2008 nanti maka harga transportasi (khususnya tiket pesawat) ikut naik. Mata rantai kenaikan harga BBM sangat panjang. Sutoto menilai kenaikan dimulai dari transportasi, tarif penginapan di hotel, sampai pada menurunnya minat belanja wisatawan asing dan lokal. “Wisatawan lokal dan mancanegara yang datang tidak lagi mengeluarkan untuk belanja. Dikhawatirkan mereka datang hanya berkunjung sementara karena tidak memiliki bujet yang banyak untuk liburan,” papar Sutoto saat dihubungi SP. Terkait dengan industri hiburan, para penjual yang ada di sekitar tempat wisata juga akan terkena dampak dari menurunnya wisatawan. Hal tersebut berpengaruh pada industri UKM (Usaha Kecil Menengah). “Wisatawan lokal maupun mancanegara berkontribusi langsung pada industri retail Indonesia. Jadi, efek dari kenaikan BBM negatif dan merugikan semua kalangan,” lontarnya. Baru-baru ini, Departemen Perdagangan dan Perusahaan Listrik Negara (PLN) juga melakukan imbauan hemat listrik kepada pusat-pusat perbelanjaan termasuk plaza dan mal. Sekalipun mungkin tidak cukup efektif, imbauan tersebut merupakan sinyal negatif bagi industri pariwisata dan hiburan. Baru-baru ini, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Daerah Istimewa Yogyakarta menilai jika program itu dipaksakan akan sangat merugikan dan memberatkan industri perhotelan. Hotel memerlukan listrik besar dan tak bisa diprediksi pengeluaran rata-rata per bulan, karena bergantung pada tingkat huniannya. Jika hotel dipaksa untuk menghemat listrik, bisa jadi membawa dampak negatif pada industri pariwisata. Sampai saat ini, tempat-tempat hiburan, pusat perbelanjaan dan hotel yang menjadi bagian dari industri pariwisata belum menaikkan harga atau tarif, terkait dengan rencana pemerintah menaikkan bahan bakar minyak (BBM) pada awal Juni 2008. Industri perhotelan dan shopping center memilih solusi alternatif untuk menyingkapi kenaikan harga BBM. Antisipasi Director of Communication Shangri-La Hotel Ratna Sjamsidar mengemukakan pihak Shangri-La lebih dulu melakukan antisipasi dengan penghematan energi. Upaya itu dilakukan dengan membatasi penggunaan listrik yang tidak perlu, membatasi penggunaan air, bahkan room service diminta mematikan televisi di kamar-kamar yang ditinggal pergi tamu. “Biasanya para tamu yang meninggalkan kamar namun TV dalam keadaan stand by. Pihak hotel otomatis akan mematikan TV tersebut. Itu langkah kecil yang selama ini kami lakukan,” papar Ratna. Menanggapi rencana pemerintah menaikkan harga BBM, Ratna mengemukakan belum berpengaruh pada pendapatan atau minat tamu untuk menginap. Sebab, Hotel Shangri-La adalah hotel untuk kalangan pebisnis bukan untuk turis. Sampai triwulan ketiga, jumlah hunian hotel masih stabil. Soal kemungkinan menaikkan tarif atau harga sewa kamar, Ratna tidak menampik. Keputusan menaikkan tarif memang bukanlah keputusan yang mudah, karena akan berdampak pada besar pada pelanggan tetap. Untuk itu, cara lain yang dipakai adalah pembenahan dari dalam manajemen hotel. Pandangan serupa juga dilontarkan tersebut dikemukakan oleh Head Marketing Communication Plaza Indonesia EX Tommy Pratomo. Dikatakan, sebagai pelaku industri pendukung pariwisata, kenyamanan dan keamanan pelanggan adalah hal utama. Sebisa mungkin kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM atau menghemat pemakaian listrik tidak dibebankan pada konsumen. “Pihak manajemen Plaza Indonesia dan EX dalam waktu dekat ini tidak berencana menaikkan sewa tenant atau tempat. Menurut kami, masih ada jalan lain yang bisa diambil selain membebaskan tenant. Apalagi dampaknya nanti harga produk ikut naik,” ujar Tommy. Para pengunjung yang datang ke Plaza Indonesia, dikatakan Tommy juga rata-rata berasal dari golongan ekonomi menengah atas. Dampak kenaikan harga BBM tidak terlalu berpengaruh pada konsumen yang berbelanja. Ditambah lagi, produk yang dijual kebanyakan produk impor. “Sebagai penghematan, pihak management mencoba kolaborasi dengan perusahaan penerbangan, rokok, dan lainnya dalam mengadakan acara. Langkah tersebut juga efektif untuk menghemat, tetapi pengunjung yang datang tetap puas,” kata Tommy. Tetap Optimistis Meskipun ancaman krisis industri pariwisata dan hiburan sudah di depan mata, Menteri Budaya dan Pariwisata Jero Wacik memperkirakan dampaknya tidak besar bagi pertumbuhan pariwisata di Indonesia. Bahkan dia tetap optimistis kenaikan jumlah wisatawan asing dan lokal pada semester pertama 2008. “Sampai triwulan pertama saja jumlah wisatawan lokal dan mancanegara bertambah 15 persen. Saya optimistis di semester pertama kenaikannya lebih tinggi lagi. Ditambah lagi, tempat-tempat wisata di Indonesia tergolong murah dibandingkan dengan negara lain,” papar Wacik, saat ditemui SP di Jakarta, Kamis (8/5). Dikatakan Wacik, rencana kenaikan BBM sampai 30 persen justru memberikan keuntungan tersendiri bagi dunia pariwisata. Keinginan berwisata ke luar negeri otomatis berkurang, karena naiknya tiket pesawat. Bisa saja, kenaikan harga BBM justru akan meningkatkan jumlah wisatawan lokal. “Saya rasa yang terancam justru tempat wisata di luar negeri. Kalau tempat wisata di dalam negeri kemungkinan akan semakin dibanjiri oleh wisatawan lokal dan mancanegara,” katanya. Mengomentari imbauan penghematan energi, Wacik memandang positif. Tindakan tersebut masih wajar apalagi krisis energi tidak hanya dirasakan oleh Indonesia saja. Banyak negara maju dan berkembang juga merasakan krisis energi. Namun, kondisi tersebut tidak langsung mempengaruhi pemasukan dan pendapatan tempat-tempat hiburan. “Krisis energi dan kenaikan BBM jangan dipandang sebelah mata. Pasti ada jalan keluarnya. Tetapi untuk target pemerintah meningkatkan tempat wisata lokal, saya masih tetap optimistis,” tambah Wacik. Semakin Prihatin Secara terpisah, seniman Djaduk Ferianto menilai kenaikan BBM akan memberatkan para seniman. Sebab kenaikan BBM otomatis berdampak di semua lini kehidupan. Kemungkinan, keinginan masyarakat untuk menonton hiburan berupa musik atau theater akan berkurang. Belanja hiburan dialihkan ke belanja bahan pokok sehari-hari. Djaduk melihat kondisi negara Indonesia sudah semakin terpuruk. Pemerintah seperti mengidap sindrom menaikkan harga. Kebijakan dan keputusan yang diambil tidak ada yang memihak pada kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Djaduk semakin prihatin dengan kondisi rakyat Indonesia. “Pemimpin negara seperti tidak berpikir panjang dalam membuat keputusan atau mengambil kebijakan. Pejabat negara tidak berbeda dengan seniman yang banyak melakukan improvisasi dalam bermusik,” ujar Djaduk, pemimpin kelompok musik Kuaetnika ini. Menanggapi rencana pemerintah menaikkan BBM, Djaduk hanya mengatakan kebijakan tersebut bukan hal yang baru. Ia memandang masyarakat Indonesia sepertinya sudah kenyang dengan beragam kenaikan, mulai dari harga BBM, bahan pokok, transportasi, dan lainnya. “Sifat pejabat dan pemimpin negara hampir sama dengan sifat anak kecil yang tidak tegas dalam membuat keputusan. Potret kondisi Indonesia semakin tidak jelas. Masyarakat Indonesia seolah sudah kebal dengan kesengsaraan sementara pemimpin negara tidak mau mendengar dan menerima keluhan,” urai Djaduk. [EAS/U-5] Last modified: 9/5/08

Advertisements

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: